Jumat, 21 Februari 2014

Peranan Atletik dalam upaya pencegahan Obesitas





            Obesitas ini penyebabnya multifaktorial, dan berbagai penemuan terbaru yang berkaitan dengan penyebab obesitas menyebabkan patogenesis obesitas terus berkembang. Terjadinya obesitas secara umum berkaitan dengan keseimbangan energi dalam tubuh. Keseimbangn energi ditentukan oleh asupan energi yang berasal dari zat gizi penghasil energi yaitu karbohidrat, lemak dan protein serta kebutuhan nergi yang ditentukan oleh kebutuhan energi basal, dan aktivitas fisik.



            1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
            Olahraga adalah kegiatan yang bermanfaat untuk meningkatkan kesegaran jasmani. Disamping itu juga dapat memupuk watak, kepribadian, disiplin, sportivitas dan kemampuan daya fikir serta pengembangan prestasi olahraga. Dan olahraga ini bisa mengangkat derajat bangsa.
Dan seperti yang kita ketahui Cabang olahraga Atletik merupakan salah satu cabang olahraga tertua di muka bumi ini, yang dilombakan sejak sepuluh abad yang lalu, dan yang biasanya dilakukan oleh masyarakat yunani kuno sebagai aktivitas untuk menungkatkan kesegaran fisik para tentara-tentara meraka. Atletik sering juga disebut sebagai aktivitas jasmani atau latihan fisik karena gerakan-gerakannya alamiah dan wajar serta umum bagi kehidupan keseharian, seperti jalan, lari, lompat, lempar dan tolak.
            Atletik berasal dari bahasa yunani athlon atau athlum yang berarti perlombaan, pertandingan, pegulatan atau seuatu perjuangan, dan orang yang melakukannya di sebut athleta/athlet.
            Kegiatan atletik ini tidak hanya untuk perlombaan saja tetapi juga untuk olahraga rekreasi dan kesehatan. Olahraga rekreasi pada atletik misalnya wahana hiburan bagi keluarga ketika diadakannya perlombaan dan bagi kesehatan atletik juga mempunyai peran yang sangat besar. Seperti yang kita ketahui atletik ini meliputi rangkaian gerak yang berupa jalan, lari, lompat, lempar dan lompat.
            Seperti yang kita ketahui begitu banyak masyarakat disekitar kita yang belum mengetahui kegunaan dari olahraga ini didalam kehidupan sehari-hari dikarenakan banyaknya kegiatan yang membuat mereka nampak sibuk hingga tidak sempat untuk melakukan suatu yang baik bagi kesehatan meraka.
            Atletik bagi kesehatan yaitu kegiatan-kegiatan atau aktivitas gerak didalam atletik yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tubuh didalam meningkatkan kesehatan jasmani seseorang. Aktivitas atletik yang biasanya digunakan didalam kesehatan yaitu seperti jalan dan lari. Aktivitas fisik juga adalah bagian dari latihan yang terus menerus dan kontinu dengan beban yang meningkat sesuai dengan kebutuhan fisik. Menurut Harsono latihan adalah suatu  proses berlatih yang sistematis yang dilakukan berulang-ulang, dan yang kian hari jumlah beban latihannya semakin bertambah.
            Sebagaimana atletik adalah olahraga kesehatan, maka tentu saja semua unsur yang ada didalam atletik itu dapat dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan kesehatan seperti jogging, jalan cepat dan lainnya.
            Setelah dicermati secara rinci maka penulis mengambil suatu langkah untuk menjadikan atletik sebagai sarana untuk meninggkatkan kesehatan yang berupa pencegahan obesitas dalam kehidupan sehari-hari dan obesitas sendiri adalah peningkatan lemak tubuh (body fat) yang terjadi akibat berlebihnya asupan makanan atau faktor lainnya didalam tubuh seseorang.
            Oleh sebab itu penulis mengambil judul “Aktivitas Atletik dalam upaya Pencegahan Obesitas” sebagai karya yang akan dikemukan melalui penulisan ini.

            1.2. Rumusan Masalah

“ Bagaimanakah peranan aktivitas atletik dalam upaya pencegahan terjadinya Obesitas ? “


            1.3. Tujuan Penulisan

-    Karya Ilmiah  ini ditulis untuk memenuhi tugas individu mata kuliah Seminar Olahraga pada  semester 7 (tujuh).
-      Mengidentifikasi Aktivitas Atletik dalam upaya pencegahan Obesitas.
-      Mengenal Obesitas dan penyebabnnya.


  
            2. TINJAUAN PUSTAKA

            2.1. Hakekat Altetik
            Atletik (athletics) adalah sekumpulan olahraga yang meliputi lari, jalan, lempar, dan lompat, yang telah menjadi aktiviyas olahraga tertua didalam peradaban manusia. Olahraga ini, dalam budaya Inggris dan beberapa negara lain dikenal dengan istilah track dan field, yang artinya lintasan dan lapangan. Seseorang yang menekuni olahraga atletik disebut dngan atlet (athlete). (Winendra Adi, dkk, 2008 : 4)
Atletik merupakan istilah yang sudah dialih bahasakan dari berbagai istilah sebelumnya. Sebenarnya, istilah atletik berasal dari bahasa Yunani yaitu “Athlon” yang memiliki makna bertanding atau berlomba.Istilah athlon hingga saat ini masih sering digunakan seprti yang kita dengar kata “Pentathlon” atau “Decathlon”.Pentathlon memiliki makna panca lomba, meliputi jenis lomba, sedangkan decathlon adalah dasa lomba, meliputi sepuluh lomba.
            Istilah atletik uang digunakan di Indonesia saat ini diambil dari bahasa Inggris yaitu Athletic yang berarti cabang olahraga yang meliputi jalan, lari, lompat, dan lempar. Sementara di Amerika Serikat, istilah atletik berarti olahrag pertandingan, dan istilah untuk menyebut atletik adalah track dan field.
            Karena atletik ini memiliki kegiatan yang beragam, maka atletik dapat digunakan sebagai alat pembinaan bagi setiap cabang olahraga. Bahkan, ada uynag mengatakan sebagai “ibu” dari semua cabang olahraga. Meskipun ungkapan ini hanya atas dasar pandangan akal sehat semata, tetapi kenyataan yang ada membuktikan bahwa atletik memiliki berbagai bentuk gerak yang tergolong lengkap. Didalamnya terdapat dasar yang dapat dijumpai pada beberapa cabang olahraga lainnya.
            Seiring dengan perkembangannya yang terjadai didalam kegiatan atletik, banyak orang menggunakannya sebagai media untuk memulai kegiatan olahraga, permainan, dan kegiatan olahraga inti. (Yudha M. Saputra, 200 :1)
            Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa atletik merupakan kegiatan manusia sehari-hari yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan bermain dan olahraga yang diperlombakan yang mana kegiatan yang dilakukan didalam atletik itu sendiri adalah lari, jalan, lempar dan lompat. Atletik merupakan dasar bagi pembinaan olahraga, oleh karena itu atletik perlu duterapkan dan diperagakan dalam kehidupan keseharian.

            2.2. Obesitas
            2.2.1. Pengertian Obesitas
            Terdapat beberapa istilah yang perlu diketahui, yaitu obesitas, overweight dan obesitas sentral. Obesitas adalah peningkatan lemak tubuh (body fat). Over weight adalah peningkatan berat badan relatif apabila dibandingkan terhadap standar. Overweihgt kemudian menjadi istilah yang mewakili obesitas baik secara klinis ataupun epidmiologis. Sedangkan obesitas sentral adalah peningkatan lemak tubuh yang lokasinya lebih banyak didaerah abdominal dari pada didaerah pinggul, paha atau lengan.
            Keseimbangan energi didalam tubuh dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari dalam tubuh yaitu regulasi fisiologis dan metabolisme ataupun dari luar tubuh yang berkaitan dengan gaya hidup(lingkungan) yang akan mempengaruhi kebiasaan makan dan aktivitas fisik. Regulasi fisiologis dan metabolisme dipengruhi oleh genetik dan juga lingungan. Berbagai penelitian mengemukakan bahwa obesitas ± 70% dipengruhi lingkungan dan ± 30% oleh genetik. (Rachmad Soegih, 2009 : 10)
 
            2.2.1. Faktor Penyebab Obesitas
            a. Makanan
            Terjadinya obesitas merupakan dampak dari terjadinya kelebihan asupan energi (energi intake) dibandingkan dengan yang diperlukan (enrgi expenditure) oleh tubuh sehingga kelebihan asupan energi tersebut disimpan dalam bentuk lemak. Makanan merupakan sumber dari asupan nenergi. Didalam  makanan yang akan diubah menjadi energi adalah zat gizi penghasil energi yaitu karbohidrat, lemak dan protein. Apabila asupan zat gizi ini berlebihan maka akan terjadi penyimpanan sisa makanan yang disebut glikogen(karbohidrat), lemak (protein dan lemak) dan dalam jumlah yang besar akan berdampak negatif.

            b. Aktivitas Fisik
            Aktivitas fisik merupakan salah satu faktor yang dapt meningkatkan kebutuhan energi, sehingga apabila aktivitas fisik rendah maka kemungkinan terjadinga obesitas akan meningkat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lamanya kebiasaaan lamanya mnonton telvisi (inaktivitas) berhubungan dengan peningkatann prevelensi obesitas. Sedangkan aktiivitas sedang hingga tinggi akan mengurangi kemungkinan terjadinya obesitas. (Rachmad Soegih, 2009 : 12)

            2.2.3. Pengaturan aktivitas fisik pada terapi obesitas :
            Seseorang yang berada pada derajat kesehatan optimal akan memiliki kemampuan fisik atau kesegeran jasmani yang optimal pula. Aktivitas fisik atau olahraga adalah suatu cara untuk meningkatkan kesegeran jasmani. Aktivitas fisik adalah istilah umum untuk segala sesuatu pergerakan tubuh karena aktivitas otot yang akan menghasilkan meningkatkan kebutuhan energi, terdapat 3 golongan aktivitas fisik antara lain :
            a. Aktivitas yang dilakukan selama bekerja/berhubungan dengan pekerjaan.
            b. Aktivitas yang dilakukan dirumah, merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari
c. Aktivitas yang dilakukan diluar pada saat waktu luang diluar pekerjaan dan aktivitas sehari-hari, termasuk disini adalah :
            - Latihan fisik adalah kegiatan terstuktur yang dilakukan meningkatkan kebugaran
            - Olahraga kompetisi yang dilakukan sebagai profesi atau pekerjaan.
            Sebaliknya dari aktivitas fisik atau perilaku sehari-harii adalah pergerakan tubuh yang minimal  sehungga kebutuhan energi juga minimal, contoh aktivitas seperti ini adalah perilaku pasif menonton televisi, membaca, bekerja dengan komputer, menelpon dan sebagainya. Aktivitas seperti ini bertendensi meningkatkan berat badan.
            Berbagai hipotesis menyatakan bahwa aktivitas fisik dapat mengontrol berta badan mlalui proses : meningkatkan energi ekspenditure, memperbaiki kapasitas aerobik, memprebaiki komposisi tubuh. Aktivitas fisik akan meminimalkan kehilangan massa bebas lemak dan  peningkatan kembali berat badan. Meta analisis memperlihatkan adanya hasil yang baik bahwa aktivitas fisik 21 minggu akan menghasilkan penurunan berat  badan 3 kg, sedangkan akktivitas fisik dngan diet 15 minggu menghasilkan penuruna berat badan 11 kg.
           Banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari aktivitas fisik ini antaranya : mengontrol tekanan danrah dan meningkatkan kapasitas kerja jantung dan paru-paru, membantu menurunkan resiko penyakit obesitas dan membantu meningkatkan kapasitas kerja otot serta meningkatkan imunitas.
          Tujuan utama dari kontrol aktivitas fisik adalah mencegah penurunan metabolisme basal, meningkatkan kebutuhan energi dan mempertahankan massa otot. Yang harus diperhatikan adalah pemilihan jenis aktivitas fisik atau olahraga yang dapat memakai asam lemak sebagai sumber energi yaitu aktivitas fisik dngan intensitas ringan sampai sedang tetapi dilakukan secara terus menerus. Efisiensi kapasitas aerobik dapat diukur dengan mengukur nadi memakai formula zona exercise diharapkan tercapai antara 70 sampai 80% (220- usia). Untuk memperoleh penurunan barat badan optimal maka dibutuhkan aktivitas fisik dengan frekuensi 5-6 x/minggu dengan durasi 20-60 menit. Olahraga dengan intensitas rendah seperti berjalan kaki selama 30-60 menit secara rutin dapat meningkatkan energi ekspenditure.
           
            2.3. Aktivitas Atletik yang Meningkatkan Kesehatan
            2.3.1. Lari Kontinu
            Lari kontinu dapat dilakukan secara cepat atau lambat dan harus diingat supaya latihan itu berhasil untuk meningkatkan kesegaran jasmani maka sekalipun berlari lambat harus mencapai denyut nadi 70%-75% dari HRR (cadangan denyut jantung9 atau 80-85% dari HR max
            Dalam latihan jarak lari sebaiknya ditentukan dengan kesesuaian kesegaran jasmani (2740 m).

            2.3.2. Jogging
            Jogging diartikan sebagai lari lambat dan kontinu. Pada waktu sekarang jogging dilakukan oleh merekan yang sudah berumur untuk tujuan kesegaran jasmani dan kesehatan. Sebagai pedoman, latihan jooging ini harus dimulai dengan beban tang ringan dan ditingkatkan. Jogging sebaikya dilakukan 3 kali dalam satu minggu dengan jarak setiap latihan 2 mil. Jogging dapat dimulai dengan berjalan lambat, kalau sudah terlatih, beban ditambah dengan berjalan cepat. Jadi jaln lambat diselingi dengan jalan cepat, selanjutnya harus ditingkatkan menjadi jalan cepat dan seterusnya hingga dapat melakukan jogging sejauh 2 mil. (R. Soekarman, 1987 : 80)
            Yudha M. Saputra (2001 : 3 8) lari santai (jogging) merupakan suatu jenis keterampilan yang melibatkan proses memindahakan posisi badan, dari satu tempat ketempat lainnya, dengan gerakan yang lebih cepat dari pada melangkah. Lari (jogging) memiliki karakteristik sebagai berikut :
-          Sikap badan harus condong sedikit kedepan.
-          Kepala agak tegak dengan pandangan selalu diarahkan kedepan.
-          Gerak kaki saat melangkah, tidak terlalu panjang cukup 30-40 cm saja.
-          Saat mendaratkan kaki bagian yang kena yaitu harus bagian dari kedua ujung telapak kaki.
-          Posisi kaki harus rileks.
-       Lengan diayunkan secara wajar dengan jari-jari tangan tidak terlalu dikepalkan, cukup dengan   membukanya sedikit.
 
            2.3.2. Jalan Cepat
            Jalan Cepat (race walking) adalah olahraga berjalan secepat mungkin, dengan masih menjaga atauran dasar berjalan.Aturan dasar berjalan adalah tumit kaki didepan harus tetap menyentuh lintasan sampai jari kaki bealakang meninggalkan tanah. (Winendra Adi,2008 : 88)
            Menurut Yudha M. Saputra (2001 : 35) secara umum, karakteristik jalan cepat tidak terlalu berbeda dengan karateristik gerak dasar biasa, hanya berbeda pada beberapa gerakan tertentu yakni gerak dasar jalan cepat lebih komplek. Adapun karakteristik gerak dasar jalan cepat adalah sebagai berikut :
-          Angkat paha kaki ayunkan kedepan lutut.
-          Tungkai bawah bergantung rileks sambil mengayunkan paha kedepan.
-          Tungjai bawah ikut terayun kedepan sehingga lutut menjadi lurus.
-          Saat emdaratkan kaki ketanah terlebih dahulu bahian tumit kaki.
-     Bersamaan dengan mengangkat tumit, ujung kaki tumpu lepas dari tanah, diganti dengan kaki ayun.
-     Posisi badan atas saat melangkah ditandai dengan posisi kepala, punggung, dada, pinggang,  hingga tungkai bawah sedikit condong kedepan.
-          Siku dilipat 900, ayunkan lengan kiri kedepan bersamaan dengan kaki kanan.
-     Koordinasi gerakan dilakukan antara lengan kiri, bersamaan dengan kaki kanan, dan lengan kanan  bersamaan dengan kaki.
-          Irama lari saling bersilangan antara tangan dan kaki.

Minggu, 16 Februari 2014

Latihan dan Penggertiannya



                                                    Latihan

             1.   Hakikat Latihan
          

          Latihan adalah aktivitas olahraga yang sistematik dalam waktu yang lama, ditingkatkan secara progresif dan individual, yang mengarah pada ciri-ciri fungsi fisiologis dan psikologis manusia untuk mencapai sasaran yang ditentukan. (Bompa, 1986 : 4), ditegaskan lagi Harsono (1988 : 101) training adalah proses yang sistematis dari berlatih atau bekerja, yang dilakukan secara berulang-ulang, dengan kian hari menambah jumlah beban latihan atau pekerjaannya. Dan yang dimaksud dengan sistematis adalah, terencana, menurut jadwal, menurut pola dan sistem tertentu, metodis, dari mudah kesukar, latihan teratur, dari sederhana ke yang lebih komplek.
            Jadi berdasarkan penjelasan diatas maka latihan merupakan bagian terpenting dari suatu cabang olahraga karena latihan sangat diperlukan sebagai persiapan untuk menghasilkan hasil yang maksimal didalam mencapai prestasi, dengan mempertimbangkan proses yang sitematik serta dilakukan secara berulang ulang.

2.   Prinsip-prinsip Latihan 
Prinsip-prinsip didalam latihan menurut Tudor O. Bompa (1986 : 4) adalah :
-           Prinsip aktif dan kesungguhan dalam mengikuti latihan.
-           Prinsip pengembangan yang menyeluruh.
-           Prinsip spesialisasi (kekhususan didalam cabang olah raga).
-        Prinsip Individualisasi (kebutuhan yang utama dari suatu bentuk usaha latihan dan setiap atlet bersifat berbeda.
-           Prinsip Variasi (keragaman didalam latihan).
-           Dan prinsip penambahan beban secara progresif.

3.   Tujuan Latihan
        Menurut Bompa (1986 : 4) latihan bertujuan untuk mencapai/memperbaiki penampilan tingkat keterampilan maupun ujuk kerja. Dan tujuan-tujuan umum dari latihan adalah :
-          Untuk menjamin dan memperbaiki perkembangan fisik khusus sebagai suatu kebutuhan yang telah ditentukan didalam praktek olahraga.
-          Memperkuat kualitas kemauan melalui latihan yang memadai dan kebiasaan disiplin.
-          Menjamin dan memelihara persiapan optimal dari beberapa cabang olahraga.
-          Mencapai dan memperluas perkembangan fisik secara menyeluruh.
-          Memperbaiki dan menyempurnakan teknik olahraga yang dipilih.
-          Untuk memperbaiki dan menyempurnakan strategi.

  4. Aspek-aspek Latihan
Tujuan serta sasaran utama dari latihan adalah untuk membantu atlet meninggkatkan keterampilan dan prestasinya semaksimal mungkin. Dan untuk mencapai hal tersebut menurut, Harsono (1988 : 100) ada empat hal yaitu :
a. Latihan Fisik, yaitu perkembangan kondisi fisik yang menyeluruh amatlah penting, oleh karena tanpa kondisi fisik yang baik atlet tidak akan dapat mengikuti latihan-latihan dengan sempurna. Beberapa komponen fisik yang perlu diperhatikan untuk dikembangkan adalah, daya tahan kardiovaskular, daya tahan kekuatan, kekuatan otot, kelentukan, kecepatan, stamina, kelincahan, dan power.
b. Latihan Teknik, yang dimaksud dengan latihan teknik adalah latihan untuk memahirkan teknik-teknik gerakan yang diperlukan untuk mampu melakukan cabang olahraga yang dilakukan atlet ; misalnya teknik menendang bola, melempar bola, menangkap bola, membendung smes dan sebagainya.
c. Latihan Taktik, tujuan latihan taktik adalah untuk menumbuhkan perkembangan interpretive atau daya tafsir pada atlet. Teknik-teknik geralan yang telah dikuasai dengan baik, kini haruslah dituangkan dan diorganisasi dalam pola permainan.
d. Latihan Mental, latihan-latihan mental adalah latihan yang lebih menekankan pada perkembangan kedewasaan atlet serta perkembangan emosional dan impulsif ; misalnya semangat bertanding, sikap pantang menyerah, sportivitas, percaya diri dan sebagainya.

  5.   Perencanaan Latihan
        Perecanaan latihan adalah alat yang sangat penting yang digunakan oleh pelatih dalam usahanya mengarahkan program latihan, rencana latihan harus sederhana dan fleksibel.(Tudor O. Bompa, 1986 :131), Harre dalam Harsono (1988 : 106), menyebutkan macro cycle adalah suatu siklus latihan jangka panjang yang bisa memakan waktu 6 bulan, satu tahun, sampai bebarapa tahun dan meso-cycle lamanya 3-6 minggu, micro-cycle kurang dari 3 minggu.